Tulislah sebagaimana kamu mengucapkannya

Kalimat mana yang lebih nyaman kamu baca: “Apa yang ingin kamu makan?” atau “Kamu mau makan apa?” Kebanyakan orang akan memilih kalimat kedua “Kamu mau makan apa?”, karena struktur kalimat tersebut adalah yang biasa dikatakan saat berkomunikasi secara langsung.

Sebagai seorang konten kreator, menulis sebagaimana pengucapan adalah salah satu cara untuk membuat audiens merasa seperti sedang berkomunikasi dengan seseorang, bukan dengan telepon genggam. Meskipun tidak semua orang memiliki cara bicara yang sama, tapi kita bisa memilih ingin merepresentasikan diri atau brand kita dengan ‘cara bicara’ seperti apa.

Take it personal adalah kalimat yang bisa kamu jadikan acuan dalam menulis kontenmu. Selain kamu harus memastikan tulisanmu berbicara, kamu juga harus memastikan kalau tulisanmu berbicara kepada audiens dengan intim. Buatlah audiens ketika membaca tulisanmu, seolah-olah sedang berhadapan denganmu, saling bertatap mata dan melempar senyum.

Ketika audiens merasa berkomunikasi dengan seseorang, maka kamu bisa lebih mudah mendapatkan empati audiens. 

Jadi, mari buat tulisanmu bicara!

Selain Kritik Dan Support, Ini Yang Harus Kamu Miliki Jika Ingin Membangun Ekosistem Yang Suportif

Untuk membangun sebuah ekosistem yang positif dan mendukung kita untuk bisa berkarya, perlu ada support dan kritik di dalamnya. Di mana support bertujuan untuk membangkitkan semangat bagi para pelaku industri kreatif agar tetap semangat dalam berkarya, sedangkan kritik bertujuan untuk memberi pandangan yang berbeda terhadap kritik, biasanya merupakan pandangan yang berseberangan, namun bertujuan untuk membangun.

Tapi ternyata, memberikan kritik dan menerima kritik tidaklah mudah. Ketika karya yang telah dibuat dengan susah payah ternyata mendapatkan kritik, tak jarang justru menjadi pemantik perselisihan secara personal. Begitu pula ketika seseorang memberikan kritik, namun tidak diterima oleh yang dikritik. Si pemberi kritik terkadang merasa diabaikan hingga merasa tidak diperhitungkan pendapatnya.

Nyatanya, sebelum membangun ekosistem suportif yang memberikan apresiasi dan kritik, kita harus membangun mental terlebih dahulu. Tapi mental seperti apakah yang harus dibangun?

Yaitu mental yang terbuka menerima krtik dan antusias menerima apresiasi. Yang memberikan kritik bukan untuk mnejatuhkan, dan memberi apresiasi tidak berlebihan. Yang memberikan kritik beserta solusi, juga menyertakan tantangan di setiap apresiasi.

Siapkah kita untuk itu?