Strategi Kreatif Menarik Perhatian Gen Z di Bulan Ramadan

Gen Z

Humor dan meme memang menjadi pemanis dalam iklan.  Gen Z begitu antusias dalam mengonsumsi konten hiburan ini. Tidak mengherankan bahwa meme yang terkait dengan kehidupan sehari-hari dengan cepat menjadi viral dan tersebar luas di berbagai platform media sosial.

Tidak dapat dipungkiri bahwa meme dapat menjadi alat yang sangat efektif bagi para pemasar yang ingin menjangkau Generasi Z. Dengan menggunakan strategi pemasaran meme, kamu dapat menarik perhatian generasi muda dengan lebih mudah.

Gimana Sih Konsep Meme Marketing?

Richard Dawkins, seorang biolog evolusi, pertama kali mengenalkan konsep “meme” atau “mim” untuk menjelaskan pola informasi yang berkembang dan menyebar di antara manusia.

Saat ini, meme sering digunakan sebagai alat ekspresi diri. Tidak jarang, pengguna internet menggunakan meme sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial dengan sentuhan humor.

Format meme yang umum meliputi berbagai macam, mulai dari gambar dengan teks pendek yang melintasi konteks hingga gambar dengan kualitas rendah tanpa konteks yang jelas.

Dalam ranah pemasaran, meme telah menjadi komponen penting dalam strategi untuk mempromosikan produk atau merek melalui konten lucu.

Dengan investasi waktu dan biaya yang relatif rendah, konten meme marketing memiliki peluang besar apalagi di bulan Ramadan.

Kenapa Meme Populer Saat Ramadan di Kalangan Gen Z?

Sebenarnya tidak sulit menebak mengapa meme begitu populer di kalangan gen z, hal ini juga didukung oleh hasil dari penelitian UMN Consulting, dimana Gen Z  mencari hiburan dengan bermain media sosial.

Dari 1.177 responden yang berusia 15-25 tahun, 20,8% dari mereka menggunakan media sosial untuk berkomunikasi, 20,3% untuk mencari hiburan, dan 13,8% untuk mengisi waktu luang.

Lebih jauh lagi, temuan ini membentuk preferensi terhadap konsep iklan digital yang menarik bagi Gen Z. Menurut riset yang sama dari UMN Consulting, Gen Z cenderung lebih suka iklan yang menghibur atau mengandung konten komedi daripada iklan yang langsung mempromosikan produk atau menampilkan konten yang menyentuh hati.

Tendensi ini semakin kuat selama bulan Ramadan , karena kebiasaan membuka gadget lebih banyak dan  membuat Gen Z merasa bosan di siang hari.

Karena itu, kebutuhan akan konten yang bisa mengurangi kebosanan di media sosial pun meningkat.

“Sebagian besar Gen Z adalah mahasiswa. Mereka merasa bosan saat bulan Ramadan , terutama di waktu siang hari,” jelas Albertus Magnus Prestianta, peneliti dari UMN Consulting

Keunggulan Meme Marketing di Bulan Ramadan

 

1.       Biaya produksi yang relatif murah

Dalam membuat meme, yang paling dibutuhkan adalah kreativitas. Kadang, Kamu tidak perlu menyediakan desain yang rumit untuk menarik perhatian.

Gambar dengan kualitas sederhana pun bisa mencapai jangkauan dan interaksi yang tinggi, asalkan relevan dengan audiens, dan mungkin dapat dihubungkan dengan semangat Ramadan.

Misalnya, meme yang memuat pesan-pesan kebaikan, semangat berbagi, atau momen-momen khas Ramadan dapat sangat menarik bagi audiens yang sedang merayakan bulan suci ini.

2.       Konten lebih mudah dibagikan

Salah satu keunggulan meme adalah probabilitas tinggi untuk dibagikan. Jarang ada yang menahan diri untuk tidak membagikan meme lucu kepada teman-temannya, terutama di bulan Ramadan yang penuh dengan semangat berbagi dan kebaikan.

Bahkan, banyak yang mengubah meme menjadi stiker WhatsApp agar dapat digunakan kapan saja dalam konteks percakapan online selama bulan suci ini. Hal ini menegaskan peran meme sebagai hiburan dan alat ekspresi diri, yang juga dapat memperkuat ikatan sosial dan semangat Ramadan.

3.       Mudah diingat

Pesan yang disampaikan dengan humor lebih mudah tertanam di pikiran audiens.

Menurut suatu penelitian, humor yang digunakan dengan tepat lebih mudah diingat daripada humor yang bersifat menyinggung atau merendahkan pihak tertentu (Wanzer, 2010). 

Dengan demikian, meme dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk Kamu kepada publik, perlu diingat untuk selalu mempertahankan nilai-nilai yang sesuai dengan budaya dan nilai-nilai Ramadan.

4.       Tetap Perlu Perhatiin Hal-Hal Ini

Meskipun menawarkan potensi yang menjanjikan, menggunakan meme sebagai medium pemasaran memerlukan kehati-hatian. Jika tidak memahami konteks atau kurang peka terhadap preferensi audiens, Kamu berisiko menjadi bahan tertawaan di dunia maya, Agar tidak tersesat, perhatikan hal-hal berikut : 

  • Wajib Memahami Audiens untuk Menjadi Relevan

Meskipun efektif dalam memasarkan merek kepada Milenial dan Gen Z, meme juga populer di kalangan usia lain, termasuk selama bulan Ramadan yang penuh berkah. Bahkan, ada akun khusus meme untuk orang tua (dad jokes) di Instagram.

Perlu diingat juga, tingkat keterlibatan dalam meme bergantung pada seberapa relevan kontennya bagi audiens. Jika target Kamu adalah kaum muda berusia 18-25 tahun, kamu dapat membuat meme dengan unsur ironi tentang pengalaman berpuasa, semangat berbagi, dan kegiatan-kegiatan Ramadan lainnya.

  • Sesuaikan dengan Semangat Ramadan 

Humor adalah sesuatu yang universal, yang berarti harus dapat dinikmati oleh semua orang. Begitu juga dengan konten meme marketing.

Jika konten yang kamu buat kurang lucu, setidaknya pastikan tidak menyinggung perasaan siapapun. 

Dalam membuat konten pemasaran, mengenali audiens target adalah langkah penting. Memasarkan sesuatu tanpa memperhitungkan preferensi audiens dapat mengakibatkan kehilangan kredibilitas bisnis serta kerugian material dan non-material.

Masih bingung juga? Skena siap bantu wujudkan iklan dengan Meme Marketing di Bulan Ramadan #jalanbareng SKENA

Share This Post: